Hidup Mandiri, susah atau gampang?

Heya Readers, met hari Sabtu. 

Beberapa hari ini, gue dan Diana kerja bhakti karena pembantu pulang lagi untuk kesekian kalinya. Entah kenapa tapi gue rasa bukan masalah pekerjaan, maklum kami masih di lingkungan orang tua, walaupun bangunan berbeda. 

Pekerjaan rumah terasa berat karena ngga ada yang bisa jaga Milan. Kalo aja nyokap itu seperti nenek kebanyakan yang suka main sama cucu. Walau rumah dekat, tapi rumah kami jarang banget dikunjungi. Satu bulan sekali belum tentu. Pun jika kami ke bangunan rumah ortu, mereka sedang sibuk sendiri-sendiri. 

Ya Allah… gimana kalo gue pindah rumah ya. Makin berat tapi at least kami ngga akan mengeluhkan keadaan. Kami pasti terpaksa untuk mandiri. 

Terkadang pilihan jauh dari orang tua adalah pikiran yang terbaik, karena dalam beberapa contoh, konflik keluarga dipicu dari perbedaan pendapat atau pandangan keluarga yang berasal dari perkawinan dengan keluarga inti. Ya maklumlah, perbedaan adat jadi alasannya. 

Well… semoga Allah selalu mendengar doa gue, bahwa gue meminta ditangguhkan, dipintarkan dan diarahkan untuk mencari lebih banyak rejeki supaya bisa hidup mandiri. Karena hidup gue milik Allah, dan semua untuk Diana 

  and Milan. 

Amin. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s