Everybody’s changing

Heya readers,

Apa kabar? Hehehehe. Semoga selalu baik/baik aja di Bulan Ramadhan ini ya. 

Udah hampir 2 tahun gue menjalani profesi Notaris/PPAT ini di Kabupaten Bekasi. Well… quite a job! Sangat menantang. Meskipun sangat berat di 2 tahun pertama ini, but I’m sure I’ll have my time. Penghasilan… ya cukuplah untuk menghidupi kami sekeluarga. 

Ini adalah hal yang sangat kami syukuri. Gue inget waktu tersulit pada saat membangun kembali kegagalan. Bukan berarti sekarang gue udah sukses, tapi gue percaya bahwa keadaan gue sekarang jauuuuuh lebih baik dari yan sebelumnya. Ditambah kehadiran Milan di kehidupan gue dan Diana menambah warna warni tersendiri🙂. Inget kan waktu gagal di IPB, gue kuliah di Universitas Borobudur? Well… pada saat itu juga gue harus ikut kerja sama bokap di kantor, tapi ngga pernah mendapat kesempatan kecuali hanya sebagai kurir. Ini bukan salah dia, tapi karena gue bingung mau jadi apa. Jadi ya cuma antar dokumen dan disuruh-suruh. Gue ngga punya duit di antara keluarga gue yang berkecukupan. Ngga ada penghasilan tambahan, selalu dimarahi kalo main karena masih masa gagal. Dibilang bikin malu keluarga. Terkadang waktu sholat di mushola kampus, gue mau nangis dan merencanakan untuk pergi yang jauuuuuh (seperti yang dulu pernah gue lakukan) :p. Gue lemah saat itu dan gue pun pagi jauh dari sahabat-sahabat gue. Untuk mengisi waktu, gue pernah melamar jadi guru bahasa Inggris setingkat anak-anak SMP di suatu bimbel. Gue pernah juga berusaha jualan baju or apapun yang gue bisa. Ngga banyak orang yang tau, tapi hal inilah yang gue jalani ketimbang menyudahi hidup ini dngan menyerah. Alhamdulillah di kampus juga gue bisa belajar banyak tentang hukum. Salah seorang Guru Besar di sana membentuk tim untuk perlombaan sidang simulasi berbahasa Inggris atau dikenal dengan Phillip Jessup Moot Court Competition. Hal baru yang membuat gue penasaran. 

Ternyata kompetisi ini udah berlangsung lama, di tiap Negara selalu ada. Di Indonesia sendiri, pelopornya adalah salah seorang Guru Besar Hukum di UI yaitu Prof. Hikmahanto. Pertama kali ketemu dia ya di kompetisi tersebut. Banyak anak-anak pintar yang ikjt di kompetisi ini. Seperti liga yang terlalu besar untuk tim kami. Well selanjutnya cerita mengenai perjuangan tim kami sampai didiskualifikasi akan gue update selanjutnya. Seru deh! 

Pelajaran hidup yang gue ambil dari pengalaman pahit gue adalah, jangan pernah percaya bahwa mukjizat selalu datang. Percayalah pada doa dan usaha🙂.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s