Nikmat Allah mana yang engkau ingkari?

Telantar, Pasutri Jompo Tinggal di Pinggir Kamar Mandi Mushala

KOMPAS.COM/ MUHAMAD SYAHRI ROMDHON

Tuesday, 27 Jan 2015 | 17:59 WIB

CIREBON, KOMPAS.com Ahmad (80) dan Saridjah (70) berusaha untuk bertahan hidup. Pasangan suami istri yang sudah lanjut usia ini terus berpindah-pindah untuk sekadar mendapatkan tempat tinggal. Setelah puluhan tempat disinggahi selama puluhan tahun, kini mereka tinggal di samping kamar mandi Mushala Nurul Iman di Desa Pegagan, Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. 

Di tempat seadanya ini, mereka tidur beralas tikar dan bantal seadanya. Saat malam tiba, tak ada sehelai selimut pun untuk menghangatkan tubuh mereka dari cuaca dingin. Terlebih lagi, saat hujan deras, mereka harus menahan dingin terkena tetesan air dari atap kamar mandi yang bocor. Meski tersiksa, pasangan suami istri ini tak mau tinggal di dalam mushala karena takut mengotori bagian dalamnya. 

“Di sini juga sudah bersyukur. Kalau di dalam, takut kotor, istri saya juga sudah bau,” kata Ahmad saat ditemui, Selasa (27/1/2015). 

Selain tak memiliki tempat tinggal, Ahmad dan Saridjah menderita penyakit yang cukup serius. Ahmad sakit di bagian perut dan Saridjah di bagian kaki. Ahmad mengaku sangat tersiksa saat penyakit di perutnya itu kambuh. 

“Kalau sudah kambuh, perutnya sangat sakit dan melilit. Nah, kalau istri saya sudah susah bangun, berdiri saja susah, apalagi berjalan,” ungkap Ahmad. 

Ahmad sempat sedih saat memegang tempat makannya yang terbuat dari baskom plastik. Bagaimana tidak, mereka hanya memakan nasi yang dicampur dengan kecap. Tidak ada lauk-pauk lainnya. Ahmad membeli makan dengan mengandalkan uang sisa miliknya dan pemberian dari warga sekitar. 

Pasutri ini, sejak menikah 40 tahun yang lalu, hingga kini belum dikaruniai anak sehingga ketika usia mereka sudah tua, tak ada anak yang bisa membantu.

Ahmad mengaku dahulu memiliki rumah warisan orangtuanya, tetapi sudah lama dijual untuk pengobatan dia dan istrinya. 

Sulaeman, mandor Desa Pegagan, mengungkapkan, warga sekitar prihatin dan kasihan terhadap nasib pasangan jompo ini. Menurut Sulaeman, keduanya memang warga Desa Pegagan. Namun, sejak rumahnya dijual beberapa tahun lalu, mereka terus berpindah-pindah tempat. 

“Mereka berdua terus berpindah-pindah tempat. Kami juga tidak mengetahui ke mana saja. Baru satu minggu lalu tinggal di sini lagi,” ungkapnya. 

Meski demikian, Sulaeman mengakui sudah mengabarkan nasib pasutri ini ke Pemerintah Kabupaten Cirebon. Namun, hingga saat ini, belum ada respons. Sulaeman dan warga sekitar berharap pasangan suami istri ini segera mendapatkan perhatian dari pemerntah. 

“Kalau kami diminta untuk membangunkan tempat tinggal, saya dan warga siap membantu. Hanya saja, tidak ada tanahnya. Jadi, kami meminta pemerintah membantu untuk mengurusnya ke panti jompo agar dapat dirawat dengan baik,” harapnya.

IMG_8109

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s