Kebahagiaan itu ada

Hi guys, puasa kah hari ini?
Well… I want to tell a story, sebuah cerita. Di mana kegagalan itu menjadi sebuah motivasi untuk menjadi batu loncatan ke arah lebih baik. Di mana menemukan seseorang dan cinta sejati itu memberikan titik balik kepada kebahagiaan…
Gue menganggap sukses itu ya apabila kita menjadi lebih baik, ngga ada puncak kesuksesan karena kita ngga pernah bisa mengukur limit kita kecuali di akhir hayat. Ya toh?
Beberapa tahun yang lalu, gue ngga bisa menentukan arah dari karir hidup gue, kacau, gagal dan sulit buat sekedar tersenyum naupun mensyukuri pekerjaan sebagai kurir di kantor. Sambil menekuni kuliah hukum di universitas yang selalu jadi bahan olokan, gue menjalani hidup apa adanya. Saat itu gue ngga berani memikirkan cinta karena gue ngga punya rasa percaya akan ada yang menerima gue apa adanya dan orang tua manapun ngga akan pernah bisa merestui keadaan gue. Di saat inipun, orang tua gue ngga pernah menaruh ekspektasi apapun pada karir gue dan mereka mengandalkan anak-anaknya yang lain.
Dengan pikiran seadanya, makin lama gue sadar dan inget kata Allah, bahwa suatu kaum hanya bisa dirubah nasibnya oleh kaum itu sendiri. Dengan keadaan itulah gue mencoba jadi yang terbaik di setiap lapisan keadaan yang gue jalani. Kuliah di kampus swasta seadanya, maka gue harus menjadi mahasiswa yang baik. Kerja sebagai kurir… maka gue harus menjadi kurir yang baik. Saat itulah di kampus gue mulai mengikuti kegiatan-kegiatan bermanfaat dari jadi penterjemah majalah hukum dan ikut di Phillip Jessup team buat lomba debat sidang hukum Internasional.
Dengan modal Bahasa Inggris yang pas-pas-an, gue akhirnya terpilih jadi koordinator team dan mulai mengarahkan temen-temen untuk bekerja sama. Memang pada saat.lomba pun gue ngga pernah merasakan kemenangan, tapi at least di antara sekian banyak orang, gue pernah merasakan lomba bergengsi dan gue jadi tau banyak istilah hukum internasional. Melihat kinerja gue, dosen gue menempatkan gue buat magang selama tiga bulan di Yan Apul, sebuah kantor law firm di MH. Thamrin. Setelah itu gue disuruh ikut ke law firm HPRP di Shangrila tapi ngga intensif dan malahan sampe sekarang mereka rekanan sama kantor gue.
Kemudian di kamous gue membangkitkan kegiatan seni dan musik, olahraga dan lain-lain dibantu beberapa temen Ambon yang serem-serem. Alhamdulillah walo ngga semua berjalan sukses, yang pasti gue punya banyak temen di sana.
Alhasil gue berhasil lulus dengan nilai pas-pas-an dan ada saat yang menyenangkan saat wisuda. Yaitu dua sahabat gue yang sejak di kampus tempat gue drop out dateng. What a surprise! Hehehe. Entah berapa kali gue menceritakan ini, ngga nyangka aja kalo inget kegagalan dulu beda banget sama sekarang🙂.
Bukan berarti sekarang gue udah jadi yang terbaik, tapi at least sekarang gue udah jadi jauh lebih baik. Setelah jadi kurir, sekarang gue calon Notaris dan PPAT dan gue menemukan seseorang yang paling cantik dan komplit tentunya. Sempurnalah hari-hari gue🙂.
Masalah penghasilan… hmm udah jauh dari yang dulu lah🙂, jauuuuh banget dan ngga percaya bisa sampe seperti sekarang.
Sekarang gue banyak mengerti dari A sampai Z permasalahan perdata dan gue udah banyak berpengalaman di bidang kenotariatan. Alhamdulillah… terharu kalo inget perbedaannya. Ini sebuah pencapaian yang hampir mustahil buat seorang gue.
Semua ini bukan untuk sombong, tapi untuk menunjukkan bahwa Kebahagiaan itu ada… dan gue menemukan titik balik pada saat bertemu dengan Diana di sudut tempat duduk Mushola MKn UI. Terima kasih Ya Allah…

20130723-064736.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s