A JOURNEY OF LOVE

A journey of my best

What do u call a journey that u were never expected?

I call this an adventure.

 

Yapp, petualangan… Dengan modal nekad, dengan informasi seadanya mengenai rumahnya di daerah Tembilahan, Riau, gue melakukan perjalanan menjemput impian ini. Namanya Diana, ia lahir dan besar di daerah yang gue sebutin tadi. Gue memulai hubungan special itu pada tanggal 6 juni 2011, hampir 3 bulan yang lalu. Gue bertemu dengannya karena dia juga mengambil S2 Magister Kenotariatan, program yang sama dengan gue dan di kampus yang sama, UI Depok. 

 

Gue berniat untuk datang tiba-tiba ke rumahnya, tepat pada hari ulang tahunnya yaitu tanggal 4 September, sehari setelah gue sampai di Pekanbaru. Perlu diketahui, Tembilahan yang masuk dalam propinsi Indragiri Hilir (inhil) ini berjarak sekitar 300km dari Pekanbaru, ditempuh sekitar 6 jam. Sungguh daerah yang sangat asing dan jauh dari rumah gue di Jakarta. I never thought that I will have this journey, and  with my bestfriend Ido, we try to survive this. Berikut ini agenda perjalanan gue :

Hari 1 :

Hari ini dimulai dengan packing dan sungkem pamit ke Bokap, Nyokap dan…. Kucing gue… what??? “-__-. Bokap sempet ngasi wejangan dan nasihat layaknya Malin Kundang yang hendak merantau dan bapaknya ngga pernah tau bakal didurhakai oleh si Malin. What a prick. Bokap bilang, “dit, nanti jangan lupa kau sholat 5 waktu, trus… Udang Galah, Dodol Durian, Manisan buah, Ikan Asin dan lain-lain…”. Gue agak ragu ini masuk dalam kategori oleh-oleh daripada nasihat. Trus setelah bokap dan gue nangis-nangisan, gue pamit sama nyokap, dia bilang, “macam mana kau dit, pergi ke Tembilahan tanpa bawa apa-apa, merajuklah anak orang tu”. Tampaknya nyokap dengan kemampuan kontak batin dengan anak-anaknya sedang men-synchronizing otak gue dengan logat melayu yang lebih mirip swahili itu. Yang terakhir adalah si Billy, kucing kampung yang mendadak jadi kucing gedongan karena nyasar di rumah gue dan kebetulan asisten nyokap (menghaluskan kata pembantu *mengikuti Raditya Dika) menyukainya dan merawatnya. Mungkin kalo gue dirawat sama asisten nyokap itu gue juga bakal mendadak jadi artis Bollywood.

 

Kemudian gue dan Ido yang pada hari itu juga baru sampe dari Lampung, beranjak ke terminal bus Damri di terminal Rawamangun dianter bokap. Dari situ kita langsung menuju bandara dan cek in. Nunggunya pun ngga terlalu lama dan akhirnya terbang. Rio….eh Riau… Here I comee!!!…

Sesampainya di Pekanbaru, kami dijemput sama kenalan paman gue, yaitu petugas pengisi dan pengawalan maintenance ATM. Yap, bisa diduga, kita akhirnya naik juga ke mobil berkerangkeng itu. Berasa jadi kayak di film Black Hawk Down dengan mobil Humvey yang menerobos ke dalam pedalaman Somalia. Untungnya di sini ngga pake ditembakin AK-47. Dari Pekanbaru kami berencana naek Travel ke Tembilahan, karena transportasi yang paling memungkinkan adalah itu. Kalo di Baghdad mungkin karpet terbang atau Teko Ajaib. Kalo di Jepang mungkin Pintu Ke Mana Saja. Kalo di Amrik yang paling mungkin adalah nebeng Robocop. Di Inggris ya paling ngga nyewa the Transporter, tapi dengan perjanjian bahwa supir ngga boleh tau barang bawaannya, jadi siap-siap dikarungin. Apaan sih ni.

Masalahnya adalah, Travel yang bermerk KIT yang kepanjangannya adalah Karunia Illahi Travel ini berangkat jam 9 malem, sementara gue mendarat di Pekanbaru jam 13.30… It’s gonna be such a long time to wait. Akhirnya dengan jiwa petualang sejati, gue dan Ido memutuskan mencari makan siang di sekitar Jalan Sriwijaya di Pekanbaru ini. Alhasil, setelah berjalan berkilo-kilo kami nemuin Ayam Penyet Semarang. Jauh-jauh ke Riau dapet menunya sama kayak di Rawamangun “-__-. karena yang laen masih tutup… akhirnya kami makan juga di situ. Setelah makan dan makan lagi dan lagi-lagi makan, kami beristirahat di sebuah Mesjid, untuk sholat dzuhur dan menjamak ashar. Hmm… Mesjid ini terkunci dan untung banget gue nemuin kran aer di luar. Sambil celingak-celinguk dengan ngga bermaksud ngembat kotak amal, gue berwudhu dan sholat jama’ah sama Ido.

Jam demi jam berlalu dan gue akhirnya menemukan ide buat mengisi waktu setelah sholat Ashar, yaitu bikin video macam Smosh, jika kalian ngga tau Smosh, jangan diasumsikan ini adalah boyband yang beranggotakan cowok-cowok homo pake hotpants yang joget-joget ngga karuan. Smosh itu dua orang Amrik yang selalu bikin video kocak, Ian dan Anthony, nah kalo sekarang ada Ido dan Adith, sama-sama I to A right? Hahahaha.

Setelah ngga karuan mengisi waktu yang cukup lama dan perasaan yang sulit nyuekin sms-sms dan telfon-telfon dari si belahan hati supaya nantinya surprise, akhirnya kami berangkat juga ke Tembilahan dengan (ngga bermaksud iklan :p) mobil Travel Kijang Innova. Thank God, tadinya gue sama Ido khawatir bakal ditaro di truk sampah karena dikira bungkusan ngga kepake “-____-.

Perjalanan mencekam karena si supir ternyata eks-rally-driver dan diketahui ngga pernah menang karena wrecked. Noooo…. dalam hati gue berdoa agar Diana nanti menemukan cowo baik kalo gue kenapa-kenapa. Pemberhentian pertama adalah di Rumah Makan Padang, sekitar jam 12 malem. Bayangin aja, di sini jam 12 malem ngemil masakan Padang, kalo jam 12 siang gue rasa makan gajah pepes saus tiram adalah pilihan yang tepat!

Hm…di sini supir ngga berani berangkat sendirian, dia selalu membarengi mobil travel lain, konvoi yang gue liat minimal dua mobil. Pun kalo berhenti sebentar untuk buang air kecil sepertinya ngga boleh terlalu jauh dari mobil, mudah-mudahan supir ngga mengambil keuntungan dari penumpang cewe. Kanan kiri sepanjang perjalanan adalah kebun kelapa sawit, seperti umumnya daerah Sumatra.

Malam yang dingin dengan lantunan lagu melayu… malah bikin gue ngga bisa tidur!!! “-____-. But it’s allright, at least gue bisa ngelamun sambil memikirkan besok. Jam segini dia udah menginjak umur 25 tahun, umur yang tepat bagi seorang wanita untuk menikah🙂. Hm… I wonder… pasti banyak juga yang ngucapin, but it’s okay, I’ll be there anyway🙂.

Sekitar jam 2.30 pagi, gue ngelewatin Jembatan Rumbai, setelah dikasi tau sama supir karena jembatan ini menandakan kami udah dekat dengan tembilahan. Perlu diketahui, indragiri hilir ini banyak banget jembatannya, dijuluki juga dengan kabupaten seribu jembatan, well…kalo jakarta masuk ke kabupaten ini, pasti julukannya jadi Kota seribu macet. Thank God Jakarta dijauhkan dari Kabupaten ini. Gue inget, Diana pernah mention Jembatan Rumbai ini… Hmm… Gue mulai lirik kanan kiri, wondering how is she, sleep well kah… Lagi sibuk bales ucapankah… Atau kangen sama gue? :p. Hmm… Dari siang dia ngga tau kalo gue menuju rumahnya, it’s gonna be a great surprise for hoping that I’m the one who ever do this🙂.

……….Jam demi jam kembali berlalu……. 

Akhirnyaaaaaaa sampe juga di Tembilahan, jantung gue makin dag dig dug….. Gue pengen buru-buru ke hotel dan merencanakan semuanya sama Ido. Tapi jam masih menunjukkan pukul 4.30 pagi, it means we have to stay at the terminal before we could go find a hotel. Sebenernya travel ini memberikan fasilitas pengantaran sampai di hotel, tapi karena gue blom menentukan hotel, maka gue dan Ido nunggu subuh aja di tempat istirahat supir. Tired…. But happy🙂

Hm…setelah Sholat Subuh, gue dan ido izin pulang sama penjaga safe house itu. Kita mau cari hotel sebelum gue nyari rumah Diana. Makin deg-deg-an :p. Perlu diketahui, di sini banyak banget yang memelihara burung Wallet, jadi akan terrdengar beberapa kicauan Wallet yang diantaranya adalah bunyi palsu guna menarik Wallet yang lain. Memelihara Wallet adalah investasi yang sangat menjanjikan menurut para warga. Perjalanan ke tengah kota agak jauh jadi kami memutuskan naik becak. Menurut si tukang becak, hotel di Jalan Besar ada yang namanya Ar-Rahman, ada Ar-Rahman 1 dan 2. Entah yang mana, tapi akhirnya kami memutuskan untuk nginep di Ar-Rahman 1. Setelah sampai dan menaruh barang-barang di kamar yang lebih cocok jadi kandang Wallet, kami keluar lagi ke arah pasar buat nyari sarapan. Nasi uduknya lumayan juga ternyata. Hmm…wondering…lagi apa ya dia?…🙂. 

Balik ke hotel dan mandi, kira-kira udah jam 8.30 WIB, gue makin deg-deg-an dan karena tadi pulang Sarapan kami udah nemuin rumahnya, akhirnya Ido merelakan gue ke rumah Diana sendirian, bawa kue ultahnya yang gue beli di Dapur C*klat :p.

Ido mendoakan gue dengan pengharapan pas gue ke sana, Diana ngga sedang di-apelin oleh juragan Kapal yang anaknya nanti durhaka karena mereka udah terlanjur kaya. Hmm…and here we go…

Gue akhirnya menyebrang jalan, hal yg sangat sulit gue lakukan sendiri karena trauma nyebrang. Hm… I wonder what is she doing? Does the beautiful woman sad coz I don’t even say a happy birthday? Hmm… Akhirnya sebelum gue sadari, gue masuk ke rumahnya…dan mengucap salam. *deg-deg-an*

Di dalam ada kakaknya yang sedang praktek bidan dan seorang pasien dengan anaknya. Kakaknya segera nanya, apa bener gue cari Diana, karena mungkin gue hanya cocok mengantar kue aja. Kemudian setelah yakin dan mengamati bahwa gue lebih mirip Channing Tatum daripada Ashton Kutcher, gue dipersilahkan duduk di ruang tamu, sempet ngobrol sama pasien bapak-bapak dengan anaknya tadi. 

At last… “Penantian yang ditunggu”… Keluar dari ruangan keluarganya, seseorang yang udah bikin gue melakukan perjalanan sangat jauh ini, seseorang yang pada 6 Juni 2011 menyatakan menolak tawaran gue jadi pacar, tetapi mengajukan penawaran kalo dia mau jadi calon istri gue, seseorang yang sangat membuat gue klepek-klepek, cantik, baik, pinter, rajin beribadah…. Okay okay… Nobody’s perfect, but for me, she’s more than perfect, she’s complete with the package from God… Hmm… Diana muncul dengan mengenakan baju piyama merah bawa sapu… Waaaa… Sungguh pemandangan yang sangat membuat gue jatuh cinta sama dia🙂.

Hari itu, dia membuat pesta ultah kecil-kecilan di rumahnya dengan mengundang beberapa temennya dan kerabatnya. Soto Banjar adalah hidangan utama yang disajikan oleh mamanya di sore itu. Hari itu gue sangat tersanjung bahkan sampe seri ketujuh! *lah…? Maksudnya gue bangga banget dikenalin sama temen-temennya. Ya Allah, inikah namanya cinta, oh inikah cinta *sambil joget-joget ngangkang 90an.

Keponakannya yang bernama Rafa lucu banget deh, hehehe. Jadi inget Ravi…. Jadi pengen punya anak juga hihihi. Seneng deh kalo ada anak kecil, lucu banget soalnya ni si Rafa.

Hari pertama ditutup dengan boncengan motor sama Diana dan jalan-jalan sebentar di sekitaran kota. Entah kenapa jantung gue berdegup dua kali lebih cepat ketika dia mendekatkan wajahnya dari belakang saat ngobrol di motor… You’re such a great person… a wonderful one…

Hari ke-2 :

Hmm… Hari kedua ini gue diajak sarapan di pasar. Sarapannya itu mie pangsit gitu deh, hehehe. Ah, sarapan apapun juga pasti terasa enak kalo makannya sama dia🙂. Untungnya di rumah Diana ada dua motor, kalo cuma satu tadinya si Ido mau gue suruh naek kuda, tapi takut terkesan dia Zorro dan gue musuhnya. Jadi ya udahlah, dikasih motor juga.

Sebenernya di hari kedua ini gue berniat ngobrol sama orang tuanya. Ido udah ngasih kesempatan gue buat ngobrol sama Abahnya Diana dengan membuka omongan dan akhirnya bisa juga gue ngobrol sama Abahnya. Pengen banget deh ngomong, “Abah, anaknya cantik, baik, bolehlah kulamar?”. Tapi gue takut terkesan buru-buru dan gue bukan anak tuan tanah di daerah tersebut, tapi bagaimanapun juga, gue anak Pejabat Pembuat Akta Tanah. Ternyata Abahnya sangat tertarik ngobrol tentang Kapal. Dulu dia usaha Kapal angkutan barang. Alhamdulillah, Allah ngasih kemudahan untuk berbicara dengan Abahnya🙂. 

Setelah berusaha PDKT ke abahnya, gue merasa kesulitan untuk PDKT sama mamahnya. Karena mamahnya seperti ngga banyak bicara dan selalu dengan keasyikannya di dapur. Gue sempet down, waktu gue dateng pertama kali dan mamahnya ngga keluar untuk kenalan sama gue. Bahkan waktu gue yang mau nyamperin ke dapur, Diana bilang ngga usah. Gue sempet salaman waktu ada tamu ke rumahnya, tapi ngga ngobrol banyak. Ya Allah… Berilah aku kemudahan🙂.

Siangnya Diana ngajak makan di rumah, karena sepi, jadi gue membabi buta karena masakan mamahnya emang enak. Sebelumnya gue dan Ido jalan-jalan ke sawah, mengenang masa muda. Dulu di IPB, kami ada praktek ke lapangan, KKP namanya, Kuliah Kerja Profesi, bukan Kuliah Kagak Pacaran. Nah, KKP ini menempatkan kami di Desa terpencil, jauh dari peradaban, di mana orang masih makan orang, temen makan temen…hehe ngga deng. Di desa itu kita dituntut untuk membantu membuat program pertanian dan dituntut untuk menjalin hubungan kemasyarakatan dengan kembang desa… Ups, maksudnya dengan masyarakat desa dan memberi motivasi kepada yang muda untuk tetap tinggal di daerahnya daripada jadi pengangguran di Jakarta. Jalan-jalan di area sawah di Tembilahan ini mengingatkan gue dan Ido pada KKP. 

Setelah makan siang, sorenya gue jalan-jalan lagi sama Diana dan Ido buat nyari kelapa. Seneng deh sore-sore boncengan sama kembang Desa ini🙂. Sempet cemburu kalo di jalan ada yang menyapanya atau ada yang iseng sama dia, tapi, itu warna-warni kehidupannya di sini, gue kagum sama Diana🙂. Kehidupannya di kota ngga menjadikan kebiasaannya berbeda di kampung halamannya🙂. I like that. Di perjalanan, gue ngelewati bekas SMUnya Diana. Hemmm.. I wonder, pasti banyak kisah yang udah dia lalui di sini, jauh dari tempat gue di Jakarta🙂. Sekali lagi, ngga apa-apa dia nostalgia masa lalunya🙂, tapi dia udah sama gue sekarang dan masa lalunya adalah bagian dari kehidupannya dan kehidupannya adalah bagian dari hidup gue🙂.

Malemnya gue ke pasar malem, tempat barang-barang bawaan Kapal yang mayoritas dari Singapur atau Malaysia, karena Tembilahan ini punya akses yang mudah ke Batam. Banyak barang-barang seperti pakaian, elektronik dan pernak-pernik lainnya. Kata Diana kalo beli pakaian di sini jangan lupa dicuci dulu, kalo perlu direbus, asal jangan dibakar pedas untuk menghilangkan kuman-kumannya. Hmm… Gue dan Diana jalan bergandengan, ngga terasa besoknya udah harus ke Jakarta…. Gonna miss her so much.

Malam sebelum tidur, Diana nelpon dan nyamperin ke hotel buat ngasih makanan. Dia baik… Baik banget…🙂.

Hari ke-3 :

Di hari ketiga ini gue belom berkesempatan ngobrol sama mamahnya. Gue harus cari kesempatan! Minimal buat kenal dia lebih jauh. Karena hari ketiga ini adalah hari gue harus kembali ke habitat di Jakarta. Can’t imagine doing journey without you🙂.

Kesempatan itu datang tepat ketika anggota keluarganya kumpul di halaman untuk membantu salah satu keluarganya yang akan pulang. Kita semua membantu menaikkan barang-barangnya ke becak untuk dibawa ke Pelabuhan.

Di situlah akhirnya gue berkesempatan ngobrol beberapa hal dengan mamahnya. Alhamdulillah, akhirnya gue at least bisa memperkenalkan diri. You know, when you get serious in a relationship, you should get to know her world, especially her parents🙂.

Well…setelah membantu dan ngobrol sama orang tuanya di halaman, perasaan gue agak lega. Tapi gue pengeeeeeen banget kenal lebih jauh lagi. Gue pengen saat gue ngelamar, mereka tau background gue dan gimana gue, supaya mereka ngga khawatir apabila anaknya tinggal di Jakarta sama gue🙂.

At last… Jam kepulangan gue udah tiba… 

Berat banget ninggalin dia di sini, tapi mau gimana lagi🙂, gue harus cepet pulang karena pun masih banyak kerjaan dan gue seneng dia menghabiskan waktu di rumahnya bersama keluarga yang mungkin berkumpul hanya satu tahun sekali.

Gue pulang pake travel lagi, yaitu mobil yang merknya sama dengan pas gue dateng, tapi supirnya kali ini berbeda, sepertinya berpengalaman, tapi mengenai ini, kita akan mengetahuinya lebih lanjut :p. Perjalanan dimulai ketika penjemputan penumpang sudah lengkap, di antaranya ternyata ada juga junior gue waktu di IPB. Ido akrab betul sama ni anak, gue memperingatkan Ido supaya jaga wibawa karena senioritas penting agar mahasiswa ngga ngelunjak.

Perjalanan terasa lancar, kita sempet berenti di rumah makan Padang, kemudian setelah sholat, kami berangkat lagi menuju Pekanbaru. Ada yang aneh dengan cara nyetirnya si Haji Ambo, supir travel. Sekarang makin lama makin brutal, trus diajakin ngobrol jadi pasif, gue langsung curiga dia digigit vampir dari keluarga Cullen yang berkhianat waktu di toilet rumah makan.

Kemudian ada saat di mana kita nyasar…dan anehnya si Aji Gile itu ngga mau berenti dan nanya. Gue sama Ido udah sering liat jam, trus akhirnya karena penasaran, gue nanya, “pak, kita sempet kan ke Bandara?”, trus dia dengan asoynya jawab,, “ya ngga lah, mas…hehehe…ngga akan sempat kayaknya”. Gue pengen bilang, “MAKANYA JANGAN MUTER-MUTER COOOOOY!!!”. Tapi karena gue masih bersabar, gue ngga akan ngomong seperti itu, hanya berdoa dalam hati aja supaya si Aji Gile ini sadar bahwa nafasnya sangat bau.

Trus ada saat di mana si Aji Gile tersesat di jalan buntu yang sampingnya jurang. tapi dengan pede nya dia mencoba menanjak pake gigi mundur, gue dalam hati berpikir kalo dia mencoba memecahkan Guinness Book of Records, kategori Aji paling Gile sepanjang masa. Orang-orang udah pada khawatir ketika mobil di tengah tanjakan YANG POSISINYA MUNDURRRRR ngga kuat nanjak lagi. Trus dia mencoba atret di tengah-tengah tanjakkan. Gue dan Ido udah baca Yasin satu putaran. Bener aja, mobil satu ban udah gantung ke jurang! Damn, gue kebayang Diana lagi… Keluarga dan akhirnya gue ngetik wasiat di notes handphone. Trus dia mencoba naek lagi ke jalanan tapi mobil malah makin mundur ke jurang! Nooooo….!!!!

Situasi : semua orang teriak! “-____-

Akhirnya si Ido ngambil inisiatif dengan ngusir Aji Gile keluar dari mobil travel dan langsung nyuruh gue megang kendali. Untung ini bukan pesawat, kalo pesawat…gue pasti disuruh Ido buat naek lewat sayap trus masuk ke ruang pilot dari jendela.

Percobaan pertama hampir gagal, gue malah kurang berpower di gas plus kopling, karena posisi udah mau nyebur jurang. Kesempatan terakhir, pikir gue. Trus akhirnya gue inget film Fast Furious berbagai seri, langsung gue bisa menyelamatkan mobil yang emang udah kosong karena penumpangnya mempercayakan gue sebagai tumbal “-____-. Fiuuuuh… Selamat!

Akhirnya gemuruh tepok tangan terdengar dan spanduk-spanduk yang menuliskan “hidup adiiiiith” terpancang di mana-mana! *lebay….

Fiuh, akhirnya setelah sampai di jalan utama lagi, gue dan Ido memutuskan untuk segera turun dari mobil dan mencari transportasi yang terpercaya, yaitu ojeg. Ngga taunya pas gue dan Ido turun, para penumpang lain juga turun dari mobil, sepertinya mereka ngga pengen menjadi korban Aji Gile itu.

Gue nyogok si tukang ojeg dua kali harga biasa dengan syarat mereka bisa bawa gue ke Bandara tepat waktu, bukan ke lapo-lapo dangdut yang penuh waria penghibur. Terjadi percakapan aneh antara gue dan tukang ojeg, untuk selanjutnya disebut Jacky.

Gue : “bang, lebih cepat lagi laaah”

Jacky : “au awiwa owo”

Gue : “hah??”

Jacky : “au awuu”

*gue berpikir helm bau yang dikasih si Jacky ini bikin gue sementara budeg. Akhirnya gue tanya lagi.

Gue : “kenapeeeee???”

*temennya Jacky yang boncengin Ido ngomong :

Temen Jacky : “dia gagu mas!”

*gue pake lagi helm bau itu dan tenang.

Akhirnya bener juga…. Gue ketinggalan pesawat!

Gue rayu si bencong penjaga counter check-in, dia bilang ngga bisa karena sistemnya udah ketutup atau dengan bahasa banci : “yey telalit, bangkong-bangkong udah lakong bow” (anda telat, bangku-bangku udah kejual-red). Aaaaaargggggh…banyak banget cobaan buat pulaaaaaang. Gue langsung merunutkan kesalahan siapa aja ini, hmm…tampaknya kesalahan ini semua awal mulanya adalah dari anehnya si Aji Gile itu. Sebeeeel iiiih *ikut-ikut bancong. Gue denger pesawat didelay, tapi ngga ngaruh karena juga ngga bisa cek in. Damn… Gue menghadap ke kantor Lion Air sana dan malah dijutekin. Beginikah pelayanan terhadap tamu seleb?

Akhirnya gue telfon sana sini dan akhirnya mereka setuju untuk mengganti tiket gue full tanpa bayar lagi tapi di hari besoknya. Kebetulan Ido udah bilang kalo Lubis lagi ada di sini, jadi kami memutuskan buat dijemput kepala suku perut buncit itu.

Di rumahnya kami disambut sama Istri dan keluarganya Lubis, tapi gue dan Ido memutuskan untuk berlabuh malam (bermalam) di hotel setelah sebelumnya ditraktir makan malam ayam bakar sama Lubis.

Hari ke-4 :

Pagi menjelang setelah abis subuh kami tidur lagi, gue dan Ido tanpa berpikiran panjang langsung lari keluar kamar dengan bercelana pendek seadanya. Kami berlari kencang dan hampir jatuh sebelum akhirnya sampai di tempat yang dituju, yaitu… Restoran hotel!!!! Tempat sarapan gratis sepuasnya apabila anda tak tau malu seperti gue dan Ido.

 

Setelah itu, karena gue dan Ido udah check in sekalian kemaren waktu penggantian tiket, maka gue dan dia jalan-jalan sebelum akhirnya dijemput Lubis dan di antar ke bandara.🙂.

Seneng denger kemarin keluarganya katanya ikut sebel sama si Travel yang bikin gue telat dan hampir nyemplung jurang. Cuma…bukan petualangan kalo ngga seru bukan?😉. Can’t wait for another adventures, kali ini gue harap, Dianalah jadi partner gue selamanya untuk bisa berpetualang🙂. This has been great….🙂

Sebuah perjalanan panjang…

Satu kisah yang ngga mungkin terlupakan…

Petualangan yang lebih seru dari Paddle Pop…

Kasih sayang tak terhingga sepanjang masa…

Satu-satunya hal yang pernah gue lakukan…

Wanita itu bernama…. Diana🙂

Saat gue upload cerita ini, gue semakin mendekati pernikahan gue dengannya….😉

Amin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s